Biografi Gus Dur: Sang Pembela Kaum Minoritas

 

Nama                         : Mikha Anggitama Setyo Murti

NPM                          : 21430031

Kelas                          : B

Matakul                      : Bahasa Indonesia

Program Studi            : Ilmu Hubungan Internasional

Tahun                         : 2021

Universitas Slamet Riyadi

pinterest.com

Kyai Haji Abdurrahman Wahid atau biasa dipanggil dengan Gus Dur adalah Presiden keempat Negara kita. Cucu dari Ulama besar pendiri Nahdatul Ulama, yaitu KH Hasyim Asyari menjabat sebagai presiden selama 1999 sampai 2001. Masa jabatanya terhitung selama 1,5 tahun, jabatan yang cukup singkat jika dibandingkan para pendahulunya. Tetapi dalam jabatan yang cukup singkat itu Gus Dur melakukan banyak perubahan dalam negara ini, hal ini juga yang membuatnya diturunkan sebelum masa jabatannya habis. Kebijakan-kebijakannya dinilai kontroversial oleh beberpa politikus dan pengamat, terlepas dari itu semua perlu kita akui bahwa Gus Dur adalah Bapak Pluralisme Indonesia.

Data Singkat

  1. Nama lengkap          : Abdurrahman Wahid
  2. Tanggal lahir            : Jombang, 4 Agustus 1940
  3. Wafat                        : 30 Desember 2009
  4. Istri                           : Sinta Nuriyah
  5. Anak          :Alissa QotrunnadaZannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid Anita HayatunnufusInayah Wulandari
  6. Orang tua               : KH Wahid Hasyim (ayah), Hj. Sholehah (ibu), KH Hasyim Asyari (kakek pihak ayah), Kh. Bisri Syansuri (kakek pihak ibu)

Latar Belakang Keluarga dan Pendidikan

Putra pertama dari enam bersaudara pasangan KH Wahid Hasyim dan Hj. Sholehah ini tidak perlu diragukan lagi pemahamanya mengenai Agama Islam. Sang ayah merupakan Menteri agama Indonesia di tahun 1949 dan meerupakan anak dari KH Hasyim Asyari pendiri Jamiyah Nahdatul Ulama. Latar belakang sang ibu pun cukup mentereng, Hj. Sholehah merupakan putri Kh. Bisri Syansuri pendiri Pesantren Denanyar Jombang, Jawa Timur. Kakek Gus Dur dari Ibu merupakan pengajar pesantren pertama yang mengajar pada kelas perempuan. Selain itu Gus Dur pernah menyatakan bahwa ia adalah keturunan TiongHoa dari Tan Kim Han yang menikah dengan Tan a Lok, yang merupakan saudara kandung dari Raden Patah (Tan Eng Hwa) pendiri Kesultanan Demak. Tan a Lok dan Tan Eng Hwa merupakan anak dari Putri Campa (Putri Tiongkok) Selir Brawijaya V.  Berdasarkan penelitian seorang peneliti Perancis Louis Charles Damais, Tan Kim Han diidentifikasikan sebagai Syekh Abdul Qodir Al Shini yang makamnya ditemukan di Trowulan, Jawa Timur.

Gus Dur Mengawali pendidikannya di Jombang, beliau didi secara langsung oleh kakenya. Pada tahun 1944 Gus Dur pindah ke Jakarta karena ayahnya terpilih menjadi ketua pertama Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi). Lalu setelah Proklamasi kemerdekaan Gus Dur kembali ke Jombang dan menetap disana sampai perang mempertahankan kemerdekaan selesai. Baru di tahun 1949 saat ayah Gus Dur di tunjuk menjadi Menteri Agama, Gus Dur kembali ke Jakarta. Sebelum lulus dari sekolah dasar Gus Dur memenangkan lomba karya tulis se-Jakarta. Gus Dur melanjutkan Pendidikannya di Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) dan menetap di Pesantren Krapyak Yogyakarta pada tahun 1953. SMEP merupakan sekolah formal yang dikelola oleh Gereja Katolik Roma dan dari situ, Gus Dur belajar bahasa Inggris untuk pertama kalinya, karena sekolah tersebut menggunakan kurikulum sekuler. Gus Dur merasa kurang leluasa menjalankan aktivitasnya selama di pesantren dan ahkirnya ia pindah ke kota dan menetap di Rumah salah satu pimpinan local Muhammadiyah sekaligus orang yang memiliki pengaruh di SMEP. Pindah ke kota tidak membuat Gus Dur begitu saja meninggalkan pesantren, setiap subuh Gus Dur berangkat mengaji ke KH. Maksum Krapyak. Siang hari ia bersekolah di SMEP dan di malam hari Gus Dur berdiskusi dengan H. Junaedi dan anggotam Muhammadiyah yang lain.

Gus Dur terus meninggatkan kemampuan Bahasa Inggris dengan membaca buku berbahsa Inggris dan aktif mendengarkan siaran radio Voice of America dan BBC London. Hal ini membuat kegemaran membacanya semakin menjadi-jadi. Sumantri (anggota Partai Komunis) yang mengetahui muridnya saat itu gemar membaca buku dan pandai Bahasa Inggris memberi  buku berjudul What is To Be Done karya Lenin. Hal ini membuat Gus Dur remaja telah mengenal “Das Kapital”-nya Karl Max, Filsafat Plato, Thales, dan lain-lain.

Lulus dari SMEP Gus Dur melanjutkan pendidikannya di pesantren Tegarejo Magelang Jawa Tengah yang diasuh oleh KH Chudhari. Lewat beliaulah Gus dur muda mengenal praktek-praktek ritual mistik. Dengan bimbingan Kyai Chudari, Gus Dur mulai melakukan ziarah ke makam para wali di Jawa. Setelah dua tahun belajar di Pesantren Tegalrejo, Gus Dur kembali ke Jombang, dan tinggal di Pesantren Beras, di usia 20 tahun beliau di percaya menjadi seorang Ustadz dan ketua keamanan di pesantren milik pamannya ini. Dua tahun berselang, Gus Dur bberangkat ke tanah suci, melakukan ibadah haji, yang diteruskan ke Mesir untuk melanjutkan Pendidikan di Univeritas al Azhar.

Sesampainya di Mesir, ternyata Gus Dur tidak bisa langsung masuk ke dalam Univeritas al Azhar dan harus masuk Aliyah (semacam sekolah persiapan). Gus Dur yang merasa bosan dikarenakan harus mengulang mata pelajaran yang telah ditampuhnya di Indonesia lebih memelih mengunjungi perpustakaan dan pusat layanan informasi Amerika (USIS). Tahun 1966 Gus Dur pindah ke Irak, disana beliau mengambil Pendidikan di Departement of religion di Universitas Bagdad sampai tahun 1970. Dalam tugas belajarnya, Gus Dur menyepatkan diri dan malah rajin mengunjungi makam-makam para wali, termasuk makam Syekh Abdul Qaidir al- Jailani pendiri Jemaah tarekat Qadiriyah. Setelah selesai belajar di Baghdad, Gus Dur berniat melanjutkan Pendidikan di Eropa, tetapi persyaratan yang ketat dalam penguasaan Bahasa Hebraw, Yunani atau Latin, Bahasa Jerman menjadi kendala.

https://jatim.nu.or.id/read

Awal Karier

Gus Dur memulai kariernya di kantor LEPES (Lembaga Pengkajian Pengetahuan, Pendidikan dan ekonomi), di Jakarta pada tuhun 1971. Gus Dur sering memberi informasi kepada lembaga ini tentang dunia pesantren dan Islam tradisional. Menurut Gus Dur lembaga ini sangat penting, lewat lembaga ini beliau bisa menddapat dan belajar mengenai aspek-aspek praktik dan kritis dalam kajian pengembangan masyarakat. Pada tahun-tahun selanjutnya pemikiran dan karakter Gus Dur semakin kuat terbentuk. Sekitar tahun 1970 – 1980-an Gus Dur menjadi seorang penulis aktif di kolom dan jurnal berbagai surat kabar dalam negeri. Dalam tahun yang sama Gus Dur mengajar di beberapa pondok pesantren, di tahun 1977 Gus Dur menjadi dosen da Dekan Fakultas Ushuludin pada Universitas Hasyim Asyari di Jombang. Selama menjabat Gus Dur sangat terkenal. Beliau sering diundang sebagai narasumber di berbagai acara seminar. Selain itu, Beliau juga rutin memberikan ceramah keagamaan kepeda kelompok-kelompok mahasiswa di Jombang.

Pada tahun 1984 Gus Dur menjadi ketua PBNU mengantikan ketua umum sebelumnya, Idham Khalid. Ketika itu Gus Dur terpilih tanpa pemungutan suara dalam Muktamar NU ke 27 di Situbondo. NU sendiri didirikan oleh kakek dari pihak ayah Gus Dur pada tahun 1926. Organisasi yang berpusat di daerah Surabaya, Jawa Timur ini cukup berpengaruh di dalam kehidupan masyarakat Indonesia. NU sendiri merupakan organisasi keagamaan dan sosial yang berbentuk tradisional.

Selama menjabat ketua PBNU, Gus Dur telah membuat perubahan besar dalam organisasi ini terutama pada pemikiran sebagian besar anggota yang masih tradisional dan konsevatif menjadi lebih liberal. Keberaniaan dan pikiran nyeleneh beliau kerap memicu kontroverisial dan dikhawatirkan akan memunculkan citra buruk NU di masyarakat. Pada kepemimpinan Gus Dur hubungan antara PBNU dan pemerintah Rezim Orde Baru berjalan baik. Tetapi bukan berarti bahwa mereka selalu berjalan Bersama, ada saat-saat mereka terlihat tidak harmonis. Gus Dur juga sering mengkritik kebijakan pemerintah Orde Baru, hingga menimbulkan reaksi politik dari Presiden Soeharto. Kita bisa melihat reaksi Soeharto dalam upaya penjegalan, agar Gus Dur tidak terpilih menjadi ketua PBNU di tahun 1994. Dalam kesempatan lain, Gus Dur kerap juga mendukung kebijakan pemerintah. Sikap ini menjadikan Gus Dur dianggap sebagai orang yang terkesan plin-plan dan tidak konsisten.

Dalam 15 tahun kepemimpinannya di NU, membuat sosoknya dikenal oleh masyarakat luas. Ini disebabkan oleh sikapnya yang sering dinilai kontroversial di tengah umat Islam Indonesia. Walau dinilai sebagai sosok yang penuh pro dan kontra, Gus Dur mampu menarik perhatian dari penguasa ketika itu. Hal ini bisa di lihat pada dinamika hubungan Gus Dur dan Soeharto. Dalam beberapa kesempatan, Gus Dur dianggap sebagai ancaman bagi Orde Baru. Tapi dalam kesempatan lain Gus Dur juga dirangkul oleh Soeharto. Hal ini bisa dilihat ketika Gus Dur ditunjuk Soeharto menjadi Indoktrinitator resmi Pancasila yang dikenal dengan nama Manggala Nasional. Pemerintah menganggap Gus Dur merupakan sosok yang tepat untuk memperkuat kedudukan ideologi Pancasila sebagai azas tunggal di hadapan komunitas Islam Indonesia.

Masuk Dunia Politik

Langkah Gus Dur masuk dunia politik terlihat jelas ketika beliau menjadi anggota MPR (Majelis Permusyawarahan Rakyat) mewakili Golkar pada tahun 1987. Ini merupakan bukti kedekatan Gus Dur dengan pemerintah. Dengan dipercaya Soeharto menjadi wakil partai Golkar, Gus Dur tetap mengkritik kebijakan pemerintah yang menurutnya perlu dikritik. Meski demikian, Gus Dur tetap menjaga hubungan baik dengan rezim Orde Baru. Kedekatanya dengan pemerintah membuaut Gus Dur menuai banyak kontroversi khusunya di kalangan umat Islam. Gus Dur dinilai terlalu kritis terhadap PPP (Partai Persatuan Pembangunan) yang notabene merupakan basis politik dari beberpa kelompok Islam. Para tokoh Islam ketika itu khawatir, Gus Dur akan semakin memperkuat posisi partai Golkar di masa mendatang dan bisa merugikan kepentingan partai Islam.

https://islami.co/lebaran-soeharto-dan-gus-dur-bermusuhan-dalam-politik-tapi-tetap-halal-bi-halal/

Setelah lengsernya Soeharto, tepatnya tanggal 23 Juli 1998, Gus Dur dan beberpa tokoh NU mendirikan PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) di Ciganjur, Jakarta Selatan. Dalam keberadaan partai ini, Gus Dur memiliki andil yang sangat besar. Tidak hanya sebagai pendiri, tetapi ia juga sebagai Ketua Umum Dewan Syuro atau dewan Penasehat Partai sampai beliau wafat. PKB berdiri karena banyaknya aspirasi yang datang dari kalangan NU dan Gus Dur merupakan sosok yang tepat untuk mewakili aspirasi tersebut dengan membentuk sebuah partai politik. Gus Dur beranggapan bahwa NU tidak boleh terus menurus dimarginalkan dalam poltik Indonesia. Ia menyadari bahwa partai politik merupakan satu-satunya cara berjuang dalam perpolitikan.

Kharisma Gus Dur membawa PKB menempati posisi ketiga pada hasil Pemilu 1999 dan mendapatkan 51 kursi di parlemen. Lalu pada Pemilu 2004 PKB berhasil meraih 53 kursi di parlemen. Hal ini membuktikan bahwa PKB patut dipertimbangakn sebagai partai pendatang baru. Gus Dur juga membuka jalan bagi kalangan santri pedesaan untuk turut serta aktif dalam dunia politik.

Menjadi Presiden

Tahun 1999 Gus Dur terpilih secara demokratis menjadi Presiden mengantikan B.J Habbie sebagai presiden ke empat. Pada 7 Februari 1999 PKB secara resmi menyatakan Gus dur sebagai kandidat pemilihan presiden dan beraliansi dengan PDIP karena tidak memiliki kursi mayoritas. Pada Juli 1999, Amien Rais membentuk poros tengah yang berisi partai-partai politik muslim. Hal ini membuat komitmen PKB terhadap PDI-P. 19 Oktober 1999 B.J Habbie mundur dari pencalonannya di Pemilu setelah MPR menolak pidato pertanggungjawabannya. Kemudian, Akbar Tanjung, ketua Golkar dan ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyatakan Golkar akan mendukung Gus Dur. Pada 20 Oktober 1999, MPR kebali berkumpul dan memulai pemilihan presiden baru. Gus Dur kemudian menang dalam pemilihan tersebut dengan 373 suara, sedangkan Megawati hanya 313 suara.

Gus Dur menjabat Presiden untuk periode 1999-2004 dengan Megawati sebagai wakilnya. Sukssesnya Gus Dur menuju kursi Presiden tidak lepas dari dukungan beberapa partai yang bercorak Islam, salah satunya yaitu PAN (Partai Amanat Nasional). Amin Rais sebagai ketua umum PAN merupakan orang yang paling mendukung Gus Dur untuk menjadi Presiden.

Ketika menjabat, Gus Dur membentuk “Kabinet Persatuan” sebagai nama kabinet baru. Selama Gus Dur menjabat sebagai presiden, Indonesia sedang berada pada krisis yang cukup hebat, khususnya dalam bidang ekonomi. Masa-masa ini merupakan masa transisi demokrasi, karena selama kurang lebih 32 tahun Orde Baru berkuasa telah terjadi berbagai penyimpangan makna domokrasi. Pada era Gus Dur ini merupakan era pengharapan bagi seluruh rakyat Indonesia, baik secara demokrasi maupun hak-hak asasi. Sehingga pada saat Gus Dur menjadi Presiden Aceh dan Papua terjadi gejolak di Aceh dan Papua. Upaya unutk mencari solusi dari konflik tersebut telah dilakukan dengan semaksimal mungkin oleh Gus Dur dengan pendekat-pendekaanya yang berbeda. Upaya Gus dur dalam meredam konflik di Aceh belum cukup berhasil, sedangkan di Papua upaya Gus Dur bisa dikatakan berhasil kerena situsasi di Papua belum separah di Aceh. Selain itu saat menjadi presiden Gus Dur mampu mengembalikan kepercayaan dunia internasional kepada Indonesia, setelah kejadian 98. Gus Dur menghabiskan 40 hari pertamanya sebagai Presiden dengan safari politik selama 23 hari yang membuat ia dikritik oleh pendungkunya sendiri Akbar Tanjung ketua DPR saat itu.


nasional.tempo.co
Persoalan politik, agama, ekonomi dan masa transisi pemerintahan dari yang otoriter menjadi lebih terbuka, membuat Gus Dur tidak menjabat sebagai presiden sampai periodenya tuntas. Pada tanggal 23 Juli 2001 Gus Dur meletakan kepemimpinannya. Runtuhnya pemerintahan Gus Dur diakibatkan kompleksnya masalah yang di hadapi bangsa ini. Meskipun ia diturunkan sebagai presiden saat masih menjabat (di makzulakan), Gus Dur tetap berupaya ingin membawa negara ini maju dengan mencalonkan diri kembali menjadi presiden pada pemilu 2004, walau pada ahkirnya ia harus gagal di tes kesehatan KPU. Bukan menjadi rahasia bahwa kondisi kessehatan Gus Dur sudah menurun sejak masih menjabat menjadi RI-1 keempat.

Bapak Pluralisme Indonesia

“Gitu Aja Kok Repot” adalah jargon terkenal dari sosok Gus Dur. Gus Dur sebagai presiden memiliki gaya bicara yang tergolong berani dan ceplas ceplos, pendekatan yang di lakukan Gus Dur pun berbeda dalam menyikapi suatu permasalahan bangsa. Salah satunya dalam mengayomi etnis Tionghoa. Beliau dikenal gigih memperjuangkan hak-hak kaum minoritas, salah satunya dengan mencabut Instruksi Presiden (Inpres) nomer 14 tahun 1967 tentang agama dan adat istiadat etnis Tionghoa. Dengan dicabutnya inpres tersebut, mereka dapat merayakan tahun baru Imlek dan menjalankan tradisi-tradisi mereka seperti Barongsai dan Liang-liong. Kebijakan ini juga dilanjutkan oleh presiden Megawati dengan menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional melalui Keputusan Presiden No. 19 tahun 2002.

Gus Dur selalu mensosialisaikan ide pluralisme agama. Gus Dur merupakan pondasi pelindung atsa ketidakadilan. Beliau sangat mengedepankan sikap toleransi dalam beragama, ia termasuk salah satu tokoh yang dapat diterima semua kelompok agama. Bahkan ketika Beliau wafat banyak tokoh agama lain merasa kehilangan dan turut mengantar serta mendoakan kepergian Gus Dur. Hal ini tidak mengherankan, sebab semasa hidupnya Gus Dur memiliki kedekatan yang cukup baik dengan umat agama lain.

Ide pluralisme yang dibawa oleh Gus Dur memiliki tiga diemensi. Pertama, plural in mind (pluralisme  di level pemikiran). Lalu yang kedua, plural in attitude (pluralisme di level perilaku)  Dan yang terakir, plural in action (pluralisme di level tindakan). Menurut Gus Dur pada level pemikiran, pluralism mengakar buukan hanya dalam bagaimana seseorang bertindak tetapi dalam bagaimana seseorang berfikir. Secara tegas pluralisme ada dalam kitab suci Al Qur’an dan secara tegas dijelaskan pluralism masyarakat dari segi agama, etnis, warna kulit, bangsa dan sebagainnya menjadi kehendak Allah.

https://buddhazine.com/gus-dur-bhante-pannyavaro-dan-djohan-effendi/

Lalu pada level perilaku, Gus Dur selalu melibatkan diri dalam berbagai komunitas prodemokrasi dan Hak Asasi Manusia serta komunitas lintas agama. Kehadirannya dalam forum-forum tersebut, menjadi teladan bagi banyak kalangan agar tidak hanya membatasi pergaulan secara homogen, namun harus membuka diri terhadap berbagai kalangan. Pada level tindakan atau level ketiga ini kita dapat melihat kita Gus Dur menjabat sebagai Presiden. Untuk melihatnya ada dalam penjelasan sebelumnya.

Gagasan pluralism Gus Dur, secara teologis dihadapkan pada tantangan iman, yaitu bagaimana mendifinisikan iman Umat Islam ditengah keragaman iman yang diyakini oleh umat agama lain. sedangkan secara sosiologi, gagasan pluralism Gus Dur dihadapkan pada sejumlah fakta social, yaitu bagaimanakah hubungan antar umat beragama, khususnya hubungan antara iman ditengah pluralism agama. Bagi Gus Dur, untuk menegakan pluralism masyarakat tidak hanya terletak pada suatu pola hidup berdampingan secara damai. Tetapi juga diperlukan penghargaan yang tinggi terhadap pluralisme itu sendiri. Kesadaran untuk saling mengenal dan berdialog secara tulus sehingga kelompok yang satu dengan yang lain saling take and give.

Sosok Gus Dur juga dikenal sebagai sosok yang sangat terbuka terhadap perkembangan intelektual dan terbuka terhadap orang yang beragama lain. tanpa memeprlemah keyakinan pada Islam, Gus Dur mampu menerima keberadaan umat beragama lain. Dengan keyakinan kuat pada ajaran Islam yang sudah ia dapat dari kecil dengan sangat baik inilah, beliau dengan mudah bisa membaur dengan agama-agama lain.

Wafat

Gus Dur meninggal pada 30 Desember 2009 setelah beberapa hari dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangukusumo (RSCM) Jakarta. Kondisi kesehatan RI satu keempat ini memang sudah menurun sejak menjabat sebagai Presiden. Komplikasi penyakit seperti gangguan penglihatan, mendapatkan serangan stroke, diabetes, dan gangguan ginjal sudah lama ia derita. Beliau meninggal di usia ke 69 tahun. Unutk mengenang jasa-jasanya, setiap tahun diadakan peringatan hari wafat beliau.wafatnya Gus Dur diperingati sebagai haul dan biasanya dilaksanakan di bilangan Ciganjur, Jakarta Selatan. Ribuan orang rela datang demi memperingati haul Gus Dur.

Karya dan Pengehargaan

Buku

  1.          Islamku, Islam Anda, Islam Kita
  2.          Pergulatan Negara Agama dan Kebudayaan
  3.          Tuhan Tidak Perlu Dibela
  4.          Islam Kosmopolitan, Nilai-nilai Indonesia dan Trasformasi Kebudayaan
  5.          Kiai Nyentrik Membela Pemerintah
  6.          Khasanah Kiai Bisri Syansuri
  7.          Menggerakkan Tradisi Pesantren
  8.          Melawan dengan Lelucon
  9.          Prisma Pemikiran Gus Dur
  10.          Mengurai Hubungan Agama dan Negara

Penghargaan

  • 1990 Tokoh 1990, Majalah Editor, Indonesia
  • 1991 Islamic Missionary Award , Pemerintah Mesir
  • 1993 Magsaysay Award, Manila , Filipina
  • 1998 Man of The Year, Majalah REM, Indonesia
  • 2000 Ambassador of Peace, International and Interreligious Federation for World peace (IIFWP), New York, Amerika Serikat
  • 2000 Paul Harris Fellow, The Rotary Foundation of Rotary International
  • Doktor Kehormatan:
  • 2000 Doktor Kehormatan bidang Filsafat Hukum dari Universitas Thammasat, Bangkok, Thailand (2000)
  • 2000 Doktor Kehormatan dari Asian Institute of Technology, Bangkok, Thailand 
  • 2000 Doktor Kehormatan bidang Ilmu Hukum dan Politik, Ilmu Ekonomi dan Manajemen, dan Ilmu Humaniora dari Pantheon Universitas Sorbonne, Paris, Perancis
  • 2000 Doktor Kehormatan dari Universitas Chulalongkorn, Bangkok, Thailand
  • 2000 Doktor Kehormatan dari Universitas Twente, Belanda 
  • 2000 Doktor Kehormatan dari Universitas Jawaharlal Nehru, India 
  • 2001 Public Service Award, Universitas Columbia , New York , Amerika Serikat
  • 2002 Doktor Kehormatan dari Universitas Soka Gakkai, Tokyo, Jepang
  • 2002 Pin Emas NU, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Jakarta, Indonesia.
  • 2002 Gelar Kanjeng Pangeran Aryo (KPA), Sampeyan dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono XII, Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia
  • 2003 Doktor Kehormatan bidang Kemanusiaan dari Universitas Netanya, Israel
  • 2003 Doktor Kehormatan bidang Hukum dari Universitas Konkuk, Seoul, Korea Selatan 
  • 2003 Doktor Kehormatan dari Universitas Sun Moon, Seoul, Korea Selatan 
  • 2003 Global Tolerance Award, Friends of the United Nations, New York, Amerika Serikat
  • 2003 World Peace Prize Award, World Peace Prize Awarding Council (WPPAC), Seoul, Korea Selatan
  • 2003 Dare to Fail Award , Billi PS Lim, penulis buku paling laris "Dare to Fail", Kuala Lumpur, Malaysia
  • 2004 Didaulat sebagai “Bapak Tionghoa” oleh beberapa tokoh Tionghoa Semarang
  • 2004 Anugrah Mpu Peradah, DPP Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia, Jakarta, Indonesia
  • 2004 The Culture of Peace Distinguished Award 2003, International Culture of Peace Project Religions for Peace, Trento, Italia
  • 2006 Tasrif Award oleh Aliansi Jurnanlis Independen (AJI)
  • 2008 Penghargaan sebagai tokoh pluralisme oleh Simon Wiesenthal Center
  • 2010 Lifetime Achievement Award dalam Liputan 6 Awards 2010
  • 2010 Bapak Ombudsman Indonesia oleh Ombudsman RI
  • 2010 Tokoh Pendidikan oleh Ikatan Pelajar Nadhlatul Ulama (IPNU)
  • 2010 Mahendradatta Award 2010 oleh Universitas Mahendradatta, Denpasar, Bali
  • 2010 Ketua Dewan Syuro Akbar PKB oleh PKB Yenny Wahid
  • 2010 Bintang Mahaguru oleh DPP PKB Muhaimin Iskandar

Daftar Rujukan

Ahmad. (2021, Juli). Biografi Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) dan Pemikirannya. Retrieved from Gramedia.com: https://www.gramedia.com/best-seller/biografi-gus-dur/

Kompas. (2010, Januari 02). Politik Luar Negeri Gus Dur. Retrieved from Kompas.com: https://tekno.kompas.com/read/2010/01/02/0253398/.politik.luar.negeri.gus.dur?page=all

Lestari, A. (n.d.). KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur): Bapak Pluralisme Indonesia. Retrieved from Portal Ilmu: https://www.portal-ilmu.com/2021/09/abdurrahman-wahid.html

Rahayu, S. P. (n.d.). Abdurrahman Wahid. Retrieved from Merdeka.com: https://www.merdeka.com/abdurrahman-wahid/profil/

Thohirin. (2021, Juli 23). Cerita Para Putri Gus Dur di Istana Jelang Pemakzulan. Retrieved from CNN Indonesia: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210722055043-20-670611/cerita-para-putri-gus-dur-di-istana-jelang-pemakzulan

 

 

 


3 Comments

  1. Mantap. Sang tokoh yg mengkritik dg joke

    ReplyDelete
  2. Secara gaya bahasa sudah bagus dan bisa dipahami. Tp jika sudah memakai daftar pustaka, maka dicantumkan pula kutipan dari referensi terkait. Karena pemakaian daftar pustaka mengacu pada karya ilmiah, sehingga perlu diperhatikan kaidah2 karya ilmiah dalam penggunaan daftar pustaka pada suatu wacana

    ReplyDelete
  3. Biografinya sudah cukup lengkap, menceritakan dari awal sampai akhir hidup Gus Dur. Saya sebagai pembaca jadi lebih mengenal beliau, tidak hanya sebatas mantan Presiden atau Bapak Pluralisme. Gaya bahasanya juga oke, bahasa sehari-hari yang bisa dimengerti semua kalangan.

    Secara teknis, paragraf openingnya sudah oke, menunjukkan highlight kehidupan beliau sehingga orang bisa lebih tertarik untuk lanjut membaca. Penulisan sub-judul bisa lebih diasah lagi supaya lebih kreatif dalam mewakili isi tulisan di paragraf tersebut. Foto yang dilampirkan sebisa mungkin ditambahkan keterangan (caption) yang menjelaskan itu foto siapa, sedang apa, kapan dan di mana. Masih terdapat banyak kesalahan pengejaan (typo), penulisan kata sambung/tempat, garis miring (italic) untuk kata berbahasa asing. Akan lebih baik juga jika sumber data dicantumkan di kalimat-kalimat hasil kutipannya, untuk menghindari plagiasi. Di bagian daftar karya buku, bisa disertakan juga tahun terbitnya, sehingga tidak hanya judul bukunya saja. Untuk penulisan daftar pustaka bisa dipelajari lebih lagi tentang penggunaan style APA-nya.

    ReplyDelete