Dalam hubungan internasional terdapat dua aktor yang berperan di dalamnya. Mereka adalah State Aktor, dan Non State Aktor. Bentuk state aktor berupa G to G atau bisa disebut Government to Government, sedangkan non state aktor tidak secara langsung berkaitan dengan pemerintah. Non State Aktor sendiri memmiliki empat jenis, pertama IGOs (internasional Government Organatitons). Keanggotaan IGOs sendiri berupa pemerintah antar Negara, contoh IGOs: PBB, Asean, Uni-Eropa, Fifa dan lainnya. Kedua NGOs (Non Government Organatitons) bisanya dibentuk oleh swasta yang dalam kegiatanya melewati batas Negara. Biasanya organisasi ini bergerak dalam isu-isu yang spesifik dan kegiatannya mengandalkan relawan, NGOs sendiri biasa disebut sebagai organisasi nirlaba. Sebagai contoh NGOs: Komiten Palang merah Internasional. MNC (Multinasional Corporations) merupakan badan usaha yang bergerak dalam mencari keuntungan yang ruang usahanya melintasi batas-batas Negara. Contoh: Toyota, Apple, KFC. Dan yang terahkir adalah Individu. Individu merupakan aktor yang paling kecil cakupanya. Contoh: Nelson Madela, Pele dan individu lain yang memilik peran penting dalam Negaranya.
State aktor sendiri merupakan aktor utama dalam studi Hubungan Internasional klasik. Seiring berjalannya waktu non state aktor muncul dalam berbagai kepentingan. Sehingga kedua aktor secara tidak langsung memiliki keterikatan satu sama lain. Terlebih setelah perang dingin antara Uni Soviet dan Amerika Serikat mereda.
Perang dingin antara Uni Soviet dan Amerika Serikat terjadi pada tahun 1947. Perang dingin ini berawal dari perbedaan pandangan terhadap pembagiaan wilayah dalam perjanjian Postdam. Lalu keinginan menjadi Negara yang berpengaruh atau memiliki hegemoni yang besar juga menjadi salah satu faktor terjadinya Perang Dingin antara Uni Soviet dan Amerika Serikat.
Perang dingin sendiri tidak dapat disebutkan secara spesifik terjadi di sebuah tempat, kota, atau bahkan Negara. Perang dingin dapat disebutkan terjadi di semua Benua dan tentunya Luar angkasa. Mengapa demikian? Karena pada dasarnya perang dingin adalah perebutan Hegemoni tanpa melakukan Agresi Militer.
Uni Soviet dengan paham komunisnya mencoba menunjukan hegemoni mereka dengan upaya menjadikan negaranya menjadi penyelamat bagi Negara-negara berpaham komunis. Amerika Serikat yang sejak dahulu menjadi Negara adi daya berusaha mencegah meluasnya paham komunis dengan membuat program Marshall Plan untuk menyaingi program Comecon dari Uni Soviet untuk menjadi kreditur bagi Negara-negara yang sedang mengalami krisis. Ada beberapa strategis dan program dari kedua Negara tersebut dalam usaha saling mengalahkan. Yang paling di ingat dalam perang dingin adalah Uni Soviet dan Amerika bersaing dalam Teknologi Luar angksa. Ketegangan kedua Negara berahkir pada tahun 1981 saat Mikael Gorbacev bertemu dengan Ronald Reagan. Dengan berahkirnya perang dingin antara Uni Soviet dan Amerika Serikat, menjadi titik balik kajian Hubungan Internasional.
![]() |
| https://nawacitapost.com/internasional/2019/08/03/as-keluar-dari-pakta-senjata-nuklir-mikhail-gorbachev-kecewa/ |
Lantas apa yang membuat kajian Hubungan Internasional menarik setelah Perang Dingin mereda? Munculnya non state actor membuat kajian Hubungan Internasional menarik, karena bentuknya tidak langsung dari pemerintah ke pemerintah, melainkan melewati sebuah dinamika yang terjadi dan berkembang di masyarakat. Sebelum Perang Dingin diplomasi selalu identik dengan perang senjata atau adu kekuatan militer yang mana selalu menimbulkan korban jiwa dan tentunya menimbulakan kerugian bagi Negara-negara yang terlibat. Tetapi setelah perang dingin Diplomasi dapat dilakukan melalui keseniaan dan kebudayaan, olahraga, industri hiburan, dan tentunya perkembangan teknologi.
contoh kasus: belum lama ini BTS boy band asal Korea Selatan menjadi delegasi Korea Seletan dalam sidang PBB. Kejadian ini jelas menunjukan bahwa Korea Selatan ingin menunjukan bahwa Industri Hiburan mereka tidak sembarangan, dan siap bersaing di pasar global berasama Amerika dan Negara Eropa seperti Inggris, Italia, Spayol, Prancis dan lainnya yang selama ini menjadi kiblat Industri Hiburan Dunia. Apa yang dilakukan Korea Selatan selama ini mulai membuahkan hasil, terlihat dalam beberapa tahun terahkir K-Pop dan Drakor sering menjadi pembicaraan di masyarakat di segala usia.
Dari kasus di atas dapat disimpulkan bahwa Kajian Hubungan Internasional yang akan dan sedang terjadi berupa pertukaran Budaya dan persaingan Teknologi dalam menentukan kedudukan sebuah Negara atau Hegemoni, hal inilah yang menurut saya menarik dalam kajian Hubungan Internasional setelah Perang Dingin.
Lalu apa yang ingin saya pelajari di Hubungan Internasional? Saya ingin belajar tentang bagaimana menentukan posisi sebuah Negara atau membuat hegemoni baru dalam tatanan Negara yang ada. Melalui itu, saya bisa melihat dan membuka peluang untuk diri saya sendiri baik sekala nasional dan internasional. Harapannya saya dapat berkontibusi bagi Negara melalui NGOs.
Refrensi:
Bagas F, Melkisedek. 2018. Sejarah Peminatan XII. Klaten: Intan Pariwara.
Mastur, Amila. 2013. "Aktor dalam Hubungan Internasional", http://amaliamastur-fisip13.web.unair.ac.id/artikel_detail-84564-Pengantar%20Ilmu%20Hubungan%20Internasional-Aktor%20dalam%20Hubungan%20Internasional.html, diakses pada 25 September 2021 pukul 08.00.
Hanzel, Matthew. 2014. "Sihi2: Aktor dalam Studi Hubungan Internasional", https://matthewhanzel.com/2014/03/20/sihi2/, diakses pada 24 September 2021 pukul 15.00.


0 Comments